Ada beberapa buku yang pernah saya baca sejak kecil dan paling berkesan. Sangking berkesannya saya masih ingat bagaimana saya mendapatkan beberapa buku tua itu.
Dulu saya tinggal di rumah perkebunan berdampingan dengan kantor camat Samatiga, dimana di sana ayah saya bekerja dan yahaaa... saya dengan leluasa dapat masuk keluar memainkan mesin tik atau membaca apa saja di sana. Juga di sekolah Madrasah Ibtidaiyah kami di Suak Timah diberi sebuah lemari berisi full buku pada setiap kelas. Kami dengan leluasa dapat meminjamkan buku tanpa pencatatan. Tebak apa yang terjadi?
Saya pindah ke mari, yaa di sini, di Banda Aceh ini. Taraaa... saya ternyata mencuri beberapa buku. Tidaak, saya hanya meminjamkannya dan belum sempat dikembalikan. Bukan! Saya adalah penyelamat buku-buku itu! Jika saya tidak membawa buku itu, mungkin buku yang sangat berkesan ini tidak pernah selamat karena dapat menjadi sarapan pagi Tsunami.
Dan beberapa buku tuwir itu dan saya yakin teman-teman tidak mengenalinya, adalah:
Buku ini berisi 2 cerita dongeng. Yang paling berkesan adalah tentang seorang raja yang sangat menyayangi ketiga putrinya, namun Raja sangat murka ketika putri ketiganya bernama Misra berkata bahwa cintanya kepada sang ayah seperti garam. Raja sangat marah hingga mengusir Misra yang akhirnya bertemu dengan Popero si miskin namun sangat baik hati. Hingga dalam sebuah perjalanan, karena kesopanan Popero ketika hendak menimba air sumur di hutan, hantu air memberikannya lima buah delima. Tiga delima ia titipkan pada warga untuk diberikan kepada keluarganya.
Alangkah terkejutnya Misra ternyata delima itu berisi permata hingga ia dapat membangun rumah mewah dan membesarkan anaknya dengan baik. Saat Popero pulang, ia mendapat hati yang terpukul karena Misra sedang bercanda riang dengan seorang pemuda di rumah mewah. Popero terlanjur cemburu seandainya pemuda itu tidak memanggilnya, ternyata itu adalah anaknya yang telah tumbuh besar selama perantauannya mencari nafkah.
Alangkah terkejutnya Misra ternyata delima itu berisi permata hingga ia dapat membangun rumah mewah dan membesarkan anaknya dengan baik. Saat Popero pulang, ia mendapat hati yang terpukul karena Misra sedang bercanda riang dengan seorang pemuda di rumah mewah. Popero terlanjur cemburu seandainya pemuda itu tidak memanggilnya, ternyata itu adalah anaknya yang telah tumbuh besar selama perantauannya mencari nafkah.
Popero membelah dua delima yang masih ia simpan dan ia sangat terkejut benar adanya cerita istrinya. Popero dan Misra membuat sebuah restoran untuk orang miskin, dan ia mengundang Raja untuk mencicipi makanan di restorannya.
Misra menghidangkan menu pertama tanpa garam pada sang Raja dan Raja tidak mau makan. Misra menghidangkan menu kedua, Raja melahapnya tanpa sisa. Lalu Misra berkata, 'Ingatkah ketika saya mengatakan cinta saya pada ayah seperti garam dan ayah mengusir saya?"
Raja tercengang dan tersadar, "garam lebih enak daripada madu dan gula" ujarnya memeluk putri ketiganya itu.
Dalam buku ini mengajarkan kepada saya, cinta tanpa rasa itu hambar alias bohong.
2. Melawan Hantu-Suwarna Pragolapati, Pustaka Jaya Jakarta 1976
Buku ini menceritakan tentang sebuah desa yang diserang teror oleh hantu yang menyebut dirinya Gandaruwel Siwar Modar. Gandaruwel menyerang rumah-rumah warga dengan sepucuk surat berisi teror untuk menyerahkan uang/perhiasan ke makam Kyai Iwil-Iwil.
Robot, putra salah satu warga yang baru pulang ke kampung sangat terkejut dengan berita yang mengerikan itu dari mulut anak-anak. Semuanya percaya jika tidak menyerahkan apa yang Gandaruwel minta, maka mereka akan dibunuh. Namun berbeda dengan Robot, ia merasa ada yang heran dengan hantu yang gila duit itu.
Akan tetapi, untuk menghilangkan resah warga, terutama Ibu dan Ayahnya yang ketakutan mendapat teror kesekian kalinya. Pikir Robot tidak akan reda masalah hanya dengan berbicara. Maka berdasarkan cerita yang ia dengar, Robot menyamai dirinya dengan Gandaruwel, baik dari cara berpakaia bahkan bertopeng. Lalu Robot mendatangi warga berkata, "Rakyat dusun Guwo Warih, ketahuilah, aku ini Gandaruwo Tobor Owor-Owor. Aku datang ke dusun kalian untuk mencari musuhku Gandaruwel Siwar Modar yang telah menakuti kalian" Robot juga meminta warga untuk tidak menuruti permintaan Gandaruwel, namun tetap saja ketakutan membuat warga menyerahkan hartanya.
Di waktu senggang liburnya, Robot mengunjungi beberapa tempat di dusunya. Hingga ia tertarik masuk ke dalam gua dekat dusunnya itu dan betapa terkejutnya ia melihat beberapa orang menggunakan kostum hitam-hitam bertopeng sedang diarahkan oleh seorang berkostum sama dengan anak buahnya. Pikir Robot langsung tepat bahwa yang manakuti warga bukanlah hantu melainkan manusia.
Robot berencana memata-matai mereka, dan ternyata mereka sedang merancang strategi dan sasaran. Ayahnya kali ini juga menjadi sasaran. Lengkap sudah informasi yang ia peroleh. Robot siap menangkap perampok berlebel hantu itu.
Robot menyamar menjadi Gandruwo Tobor Obor-Obor meminta bantuan warga untuk berpatroli. Syukurnya warga mematuhi dan usaha penangkapan hantu itu sukses. Perambok berkostum hitam itu dibuka topeng oleh warga, dan alangkah terkejut warga bahwa mereka merupakan juga warga dusun setempat.
Kasus selesai. Warga kembali tenang, namun Genderuwo menghilang tanpa jejak. Robot telah menyelamatkan warganya, ada rasa lega dan bangga dalam dirinya.
Dalam buku ini mengajarkan kepada saya, mengatasi masalah bukan dengan membicarakannya, melainkan dengan tindakan. ^^
Malam ini cukup 2 buku yang saya review ya, nantikan lima buku (lagi) yang berhasil membuat saya terus mengingat pesan yang disampaikan di dalamnya.
^_^
Dalam buku ini mengajarkan kepada saya, cinta tanpa rasa itu hambar alias bohong.
2. Melawan Hantu-Suwarna Pragolapati, Pustaka Jaya Jakarta 1976
Buku ini menceritakan tentang sebuah desa yang diserang teror oleh hantu yang menyebut dirinya Gandaruwel Siwar Modar. Gandaruwel menyerang rumah-rumah warga dengan sepucuk surat berisi teror untuk menyerahkan uang/perhiasan ke makam Kyai Iwil-Iwil.
Robot, putra salah satu warga yang baru pulang ke kampung sangat terkejut dengan berita yang mengerikan itu dari mulut anak-anak. Semuanya percaya jika tidak menyerahkan apa yang Gandaruwel minta, maka mereka akan dibunuh. Namun berbeda dengan Robot, ia merasa ada yang heran dengan hantu yang gila duit itu.
Akan tetapi, untuk menghilangkan resah warga, terutama Ibu dan Ayahnya yang ketakutan mendapat teror kesekian kalinya. Pikir Robot tidak akan reda masalah hanya dengan berbicara. Maka berdasarkan cerita yang ia dengar, Robot menyamai dirinya dengan Gandaruwel, baik dari cara berpakaia bahkan bertopeng. Lalu Robot mendatangi warga berkata, "Rakyat dusun Guwo Warih, ketahuilah, aku ini Gandaruwo Tobor Owor-Owor. Aku datang ke dusun kalian untuk mencari musuhku Gandaruwel Siwar Modar yang telah menakuti kalian" Robot juga meminta warga untuk tidak menuruti permintaan Gandaruwel, namun tetap saja ketakutan membuat warga menyerahkan hartanya.
Di waktu senggang liburnya, Robot mengunjungi beberapa tempat di dusunya. Hingga ia tertarik masuk ke dalam gua dekat dusunnya itu dan betapa terkejutnya ia melihat beberapa orang menggunakan kostum hitam-hitam bertopeng sedang diarahkan oleh seorang berkostum sama dengan anak buahnya. Pikir Robot langsung tepat bahwa yang manakuti warga bukanlah hantu melainkan manusia.
Robot berencana memata-matai mereka, dan ternyata mereka sedang merancang strategi dan sasaran. Ayahnya kali ini juga menjadi sasaran. Lengkap sudah informasi yang ia peroleh. Robot siap menangkap perampok berlebel hantu itu.
Robot menyamar menjadi Gandruwo Tobor Obor-Obor meminta bantuan warga untuk berpatroli. Syukurnya warga mematuhi dan usaha penangkapan hantu itu sukses. Perambok berkostum hitam itu dibuka topeng oleh warga, dan alangkah terkejut warga bahwa mereka merupakan juga warga dusun setempat.
Kasus selesai. Warga kembali tenang, namun Genderuwo menghilang tanpa jejak. Robot telah menyelamatkan warganya, ada rasa lega dan bangga dalam dirinya.
Dalam buku ini mengajarkan kepada saya, mengatasi masalah bukan dengan membicarakannya, melainkan dengan tindakan. ^^
Malam ini cukup 2 buku yang saya review ya, nantikan lima buku (lagi) yang berhasil membuat saya terus mengingat pesan yang disampaikan di dalamnya.
^_^


12 komentar:
wahaha..buku jadul-jadul kali. kayaknya aku suka dengan buku yang pertama.
Secara waktu kecil, bacaanku buku-buku model gitu juga, hahaaa..
Hahaha, jadul ga jadi masalah kak, beberapa tahun ke depan, buku yang kita banggakan sekarang juga disebut buku jadul oleh anak cucu kita. Eaaakkk...
Bacaanku ringan-ringan aja sih, ya begitu contohnya. :D
darimana dapt buku2 ini Isni? zaman2 kali bukunya. Masih ada?
buu pertama kayak cerita bawang merah bawang putih ya.. si bawang putih dpt labu yg waktu dibelah banyak emas dan berlian. hihihi
ada baiknya buku itu dimuseumkan. mengingat buku yg uda tua dan salah satu peninggalan Tsunami. eaa...
Bang Ferhat, haha dari bookcase Meulaboh. Hahha :D
Yaa, kyaknya crta gt jg bang. :)
Akbar, eaaa... saya musiumkan dlm bookcase saya aja yah buat cucu nanti. Eaa... XD
hauahaha, buku di perpus SD aku dulu kok..
eh, penerbitnya ada yang pustaka jaya pula :D
Hahaha ada baca buku di perpus SD Nazri? :p
ada lah, orang aku tiap hari kena kurung di situ karena gak buat pr :D
Hhahahaha.... pengalaman masa kecil. Review donk buku-buku bacaan masa kecil Nazri :D
Wah robot birowo. Saya juga baca waktu kecil, seru banget tuh. Udah cari di toko buku sekarang gak ada lagi :(
Juga serial pulung, bagus...
Tahun 2020 sy teringat pernah baca buku yg kedua tapi lupa judulnya, googling akhirnya sampai kesini...
Oiya seingat sy nama genderuwo tobor owor owor itu diambil dari nama protagonisnya dan dibalik, Robot Birowo (bi: dua atau ganda)
Ada tokoh Darmo Rawis khan
Posting Komentar