Keputusan menjadi working mom, bukanlah keputusan mudah. Keputusan menikah muda juga bukanlah keputusan mudah. Namun, Riana adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang marayakannya. Riana harus segera membabat habis 50 draft novel penulis pemula untuk dipilih diterbitkannya. Ya! Riana adalah seorang editor. Mengorbankan Ryan bocah berusia dua tahun yang juga ditinggal tugas suaminya merupakan pilihan yang berat.
Tokoh utama selain Riana dalam novel ini adalah Tyo. Riana dan Tyo sebenarnya adalah pasangan yang serasi, namun tidak demikian. Tyo juga memiliki mimpi layak pria lainnya, selain menjadi sutradara sebuah film. Tyo adalah rekan kerja Riana sebagai manager marketing diperusahannya. Keduanya tak hanya serasi, melainkan kenangan yang dimiliki keduanya terlanjur indah.
Riana merasa dari 50 draft yang dibacanya tidak ada satu pun yang layak terbit. Kecuali satu, dan Riana belum siap menerima pro-kontra. Tyo masih setia mendengar keluh kesah mantan kekasihnya itu berusaha meyakinkan Riana atas keputusannya.
“So, let’s think out of the box, Ri. Buat gebrakan, tunjukin kalau karya ini berkualitas dan bisa diterima di pasaran.” (Hal 5) Perkataan Tyo bagai petir yang menyambar alam bawah sadarnya. Riana hampir lupa, kalau ia juga punya hak memperjuangkan karya yang dianggapnya bagus, tidak hanya mengikuti permintaan pasar dan perusahaan.
Dibalik proses terbit setelah Riana menghubungi penulis. Chynthia menarik pembaca mengintip masa lalu Riana dan Tyo. “Selama Riana mengenal Tyo, dia selalu memberikan hal positif untuk Riana, Bu. Riana akan jawab siap tapi mungkin untuk dua atau tiga tahun ke depan.” (Hal 20) Riana merasa sangat bahagia Tyo memperkenalkannya pada keluarga. Rumitnya, Tyo malah berubah tanpa kata. Riana dibuatnya terkatung-katung.
Nekat, Riana memberanikan diri mampir ke kos Tyo. Sayangnya, usaha Riana mendapati penjelasan Tyo berakhir dengan meninggalkannya seorang diri. Riana menatap seisi kamar Tyo, secarik kertas ditemukannya di sana. Riana baru menyadari Tyo lihai menulis. Tapi, jauh dalam lubuk hati Riana, dia merasa tulisan Tyo sama sekali tidak berhubungan dengannya.
Riandhika, pria yang ditemui Riana di Yogyakarta perlahan menyeret kekosongan hatinya yang telah resmi berpisah dengan Tyo. Riandhika sosok yang sempurna, dengan kesabaran Riandhika kekeh mendapatkan restu Ayah Riana.
Dengan bagian tubuh sebelah kanan yang sudah tidak berfungsi, Ayah berjalan dengan bertumpu pada bagian kirinya. Pria itu menghampiri Riandhika, “My princess will be your queen, protect her better than I did when she was a little kid.” (Hal 156) Mata Ayah berkaca-kaca setelah berusaha keras berbicara layaknya sosok Ayah yang normal, walaupun durasinya lebih lama dari orang sehat.
Ada juga Andra, wanita yang mendalami ilmu psikologi. Lewat Andra, Riana merencanakan sebuah pertemuan. Spontannya, Andra dan Tyo menjadi sangat akrap. Maka tak heran suatu hari Andra mengaku mencintai Tyo. Riana menatap Andra, meminta kesungguhan wanita itu. sosok Tyo memang mudah sekali dicintai, tapi sebuah penerimaan baru saja Riana rasakan dari Andra.
“Sejak pertama kali kamu meceritakannya dan meminta tolong padaku…,” Andra menghela napas. “Aku sudah memutuskan untuk menerimanya, Ri.” (Hal 107) Perasaan Riana campur aduk, sedih sekaligus senang. Wanita di hadapannya bisa melakukan hal yang sama sekali tidak bisa dilakukannya. Saat itu, ia baru sadar siapa yang benar-benar mencintai Tyo.
Setelah peluncuran buku, dan ketakutan yang sempat hinggap perlahan menjadi indah, Riana kembali mendapatkan setumpuk pekerjaan. Sedikit lega karena Riandhika akan segera pulang. Malangnya, telepon dari Ibu bagai halilintar ditengah terik mentari. Untuk ketiga kalinya, Ayah mengalami serangan stroke, dan kali ini yang terparah.
Sosok Ayah dimata Riana adalah pria yang pertama ia cintai. Segalanya. Seketika Riana rapuh dalam pelukan Tyo tak jauh dari jarak pandang sosok pria bertubuh tegap.
Riandhika memanggil Riana pelan. Hatinya hancur mendapati pemandangan itu. Untuk marah, dirinya telah kalah. Ia teringat janji pada mertuanya, pria itu merasa bersalah telah begitu lama membiarkan Riana menghadapi segalanya sendirian.
Cynthia dengan berani menulis kisah Tyo dan Riana dan menerbitkannya, seolah ia ingin berseru tanpa menggurui perkara mencintai dan sebuah penerimaan. Sebuah ketulusan menjadi esensi cinta yang kokoh, dan Cynthia berhasil mengemasnya dengan apik.
Cynthia Febrina
June 25th 2014 by Elex Media Komputindo
June 25th 2014 by Elex Media Komputindo
200 pages
Peresensi; Isni Wardaton pada September 2014






