![]() |
Awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan buku karya Dr. Sulaiman bin Qasim Al-`Ied. Tapi kuturuti saja kebiasaan membaca halaman cover dan halaman pembuka. Merasuk ke pokok pembahasan pertama dan selanjutnya, saya malah terbawa arus. Saya suka. Saya suka cerita Thalhah dalam buku ini. ^^
Sebelumnya, saya terlebih dahulu diperkenalkan pada sosok tokoh yang begitu bersemangat dalam menghafal Al-Qur`an, pemuda itu mampu mengkhatamkan Al-Qur`an dalam waktu semalaman. Ketika Rasulullah mengetahuinya, dengan rasa iba Rasulullah sallahu`alaiwasallam berkata, “Sungguh aku khawatir panjangnya masa yang akan engkau lalui, hingga membuat dirimu merasa bosan, bacalah (Al-Qur`an) itu dalam waktu sebulan.”
Pemuda itu sadar usianya yang sangat muda, ia sadar kesanggupannya, apalagi dengan anjuran Rasulullah. Tapi apa yang ia katakan? “Wahai Rasulullah, biarkan aku menikmati masa kuat dan mudaku ini.”
Begitulah sang pemuda berkali-kali memintanya hingga takaran akhir Rasulullah memberinya, “(khatamkan) pada setiap tujuh hari.” Tapi sang pemuda tetap kekeh meminta waktu yang lebih sedikit. Rasulullah menolaknya, rasa kasihan dan khawatir akan berhentinya amal mulia tersebut karena terlanjur bosan membaca lantunan suci tersebut. Sebab, amal yang paling dicintai Allah Ta`ala adalah yang dikerjakan terus menerus kendati (amal itu) sedikit.
Kamu mau tahu siapa nama indah pemuda itu? Tenang, akan kuberi tahu, namanya Abdullah bin Amr bin Al-ash. Ah, saya baru berkenalan dengannya. Apa ia sedang menungguku di pintu surga? Hhmn, *senyum-senyum
Sekarang akan kuceritakan seorang pemuda yang dijamin masuk Surga. Kalian tentu sudah dahulu mengetahui siapa pemuda itu, namanya terlantun indah dalam sebuah Qasidah Hasan bin Tsabit ra;
Dan Thalhah pada hari tercerai berai tetap menemani Muhammad
Pada saat terjepit dan penuh kesukaran
Ia melindungi dengan tangannya hingga beliau selamat
Sedang jari-jarinya di bawah pedang telah lumpuh
Beliau bersama Muhammad berada di barisan paling depan
Menegakkan panji islam hingga terbebas.
Ialah Thalhah bin Ubaidillah bin Sa`ad bin Taim bin Luay bin Ghalib al-Qurasy al-Tamimy.
Semoga kita tetap dalam limpahan hidayahnya, lewat kisah-kisah yang masih layak kita konsumsi, kenapa tidak kita amalkan? Salam semangat. ^^
Kalau mau pinjam, atau mau tahu lebih jelas ceritanya, kudu deh hunting ini buku. :D



