Tak lekang oleh waktu, kebenaran harus
diungkap, walau itu pahit,
begitu kiranya secara tegas cerpenis tuangkan dalam ramuan buku Doa untuk
Sebuah Negeri. Penulis dengan latar belakang Nanggroe Seuramo Mekkah, dengan ceubeuh
menggantikan air mata dan darah menjadi kumpulan bongkahan kata yeng tersusun
rapi dalam paragraf, demi melawan lupa.
Bahasa
fiksi tidak menggurui yang digunakan Diana Roswita dalam cerpennya berjudul Dua
Jalan, menceritakan rintihan Mak, dua anaknya terpisah pada jalur yang beda,
sang kakak memihak TNI sementara adiknya ternyata anggota GAM. Sementara Doa
untuk Sebuah Negeri oleh Julianty Ismail, mengisahkan tentang kesaksian
seseorang terhadap apa yang ditangkap mata di sebuah negeri yang dulunya terkenal
indah dan damai. Buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh enam perempuan Aceh
pada tahun September 2001 bukan sekedar bacaan belaka, melainkan juga reportase
yang terlupakan.
Aceh masih terluka. Tiga kata itulah yang ingin disampaikan
penulis FLP Aceh dalam tiap halaman kumpulan cerpen Hati yang Terpisah. Buku
yang diterbitkan pada Mei tahun 2004 ini kembali menyibak memori lama untuk
anak Aceh masa kini. Buku ini menjadi catatan isak tangis sejarah, seolah Aceh teriakkan,
jangan lupakan kami.
Diawali
dengan kisah Yang Tersisa dari Dina, seorang santri kelas satu SLTP. Dina berusaha
keras membunuh kenangan buruk yang sempat dibawa ke atas, sebuah istilah tempat
latihan gerakan separatis yang berada di hutan pegunungan. Beragam cara ia
lakukan, malah mimpi buruk yang kerap ia terima.
Tak
jauh beda dengan kisah Dina, Rina seorang istri panglima sagoe GAM dihadapkan teroran ketakutan, cemoohan tetangga dan tatapan
curiga. Bahkan ia harus rela melepas cinta yang dipupuknya susah payah demi
abdi pada negeri. Siapa sangka, Tuhan memisahkan hati keduanya selamanya lewat
penulis bernama Mayda Latif. Hati yang Terpisah layak menduduki cover buku ini,
di balik halaman selanjutnya, tak terhitung jumlah hati-hati lain yang
terpisah.
September
2004, FLP Aceh lagi-lagi melahirkan karya. Warna tulisan yang dikemas cover
berjudul Bintang Langit Baiturrahman mengabarkan kepada kita. Balumbidi,
makhluk mitos yang terkenal di Tanah Rencong menjadi salah satu cerita dalam
buku ini. Begitu juga dengan Benang Tujuh Warna, kedua cerpen yang ditulis rapi
oleh Ferhat mengangkat kisah mitos berdasarkan sudut pandang orang Aceh. Setting, bahkan campur kode berbahasa Aceh
menjadi salah satu warna yang turut serta mewarnai cerpennya. Kepada pembaca,
lewat kedua cerpennya terus mengingatkan kepada pembaca untuk mengenal Tuhan
lebih dekat.
Aji
merupakan bintang yang terus benderang dimata Tiwi. Bocah berusia sepuluh tahun
yang menyodorkan selembar amplop menjadi awal dari persahabatan keduanya. Di
atas lantai mesjid Baiturrahman, Tiwi kerap mengajari Aji ilmu agama. Cerpen tersebut
mengolah perasaan seorang bocah untuk terus bersinar terang, dan menyisakan
haru lewat sosok Tiwi. Cempaka, sang penulis berhasil menjadi bayangan Tiwi dalam
menyampaikan pesannya. Aneuk Aceh,
bangkit!
Bermodal
semangat menulis, Mei 2009, FLP Aceh membangun lini pernerbitan khusus, Kamoe
Publishing House. Saat itu, Ferhat sebagai direktur menggagas buku pertama yang
berjudul Rumah Matahari Terbit. Masih dengan nuansa Aceh, Pembunuh Berinisial
T, masih terngiang jelas siapa dia.
“… Tapi mungkinkah ‘T’ adalah
keangkuhan bagi pemilik kebersahajaan sang ‘Teuku’? Atau ‘T’ adalah
langkah-langkah gagah yang menghentak bumi pemilik sepatu laras yang bernama
‘Tentara’? Atau ‘T’ adalah wujud ketidakberdayaan geraham hukum negeri berjuta
luka dalam rangkuman ‘Tak dikenal’?” (halaman 16)
Alfi
Rahman, lewat Pembunuh Berinisial T, merangkum eksodus dari kampung karena
konflik yang berkepanjangan. Lalu Tsunami datang menuruti titahNya menuju Aceh
damai.
Tak
kalah mengagumkan dengan cerpen Alfi Rahman, dan penulis Rumah Matahari Terbit
lainnya, Safrida Askariyah. Alimuddin mengenalkan sosok Safrida yang sedang
mencuci pakaian, namun memoarnya terkelupas satu-persatu. Membacanya, saya tak
sadar telah melalui perpindahan plot sangat cepat dan sama sekali tidak
menganggu meneguk arti damai yang tak ada apa-apanya dimata Safrida.
“Damai itu hanya di selembar atau
beberapa kertas. Sementara perih jiwa di sekujur tubuh. Sembuhkah luka itu?
Safrida bisakah berdamai dengan duka di sekujur tubuh?” (halaman 40)
Membaca
Doa untuk Sebuah Negeri, Hati yang Terpisah, Bintang Langit Baiturrahman, dan
Rumah Matahari Terbit seperti membaca catatan hati Aceh. Kempat buku yang
ditulis oleh penulis Aceh dengan beragam latar belakang, sangat kental dengan
setting Aceh, baik untuk menyatakan latar tempat, dan suasana Aceh seutuhnya
seiring berjalannya waktu.
Seiiring
besarnya angka usia, pada tahun ke 12 FLP Aceh hadir di tengah-tengah
masyarakat, Kamoe Publishing House kembali menetaskan karya yang berbeda. OMG,
My Mom! Cerita kocak (nyata) ibu dan anak ditulis oleh teman-teman dengan
beragam problema. Senja Kelabu dengan gesit memainkan kata membuat pembaca
hanyut dalam ceritanya bersama Mama maniak game
yang berjudul, Tembak Monsternya, Mom!
Norak,
konyol, lebay, dan unik yang dikemas apik oleh 17 penulis akan mengajak pembaca
memutar digit ingatan kisah lucu bersama ibu. Penulis tak hanya melepas
konyolnya semata, sebaliknya mengerat pelukan sosok ibu lewat tinta kata.
Saya
pun percaya, setiap ibu mempunyai cara tersendiri dalam mengirim paket cinta
untuk anaknya. Lewat kemasan OMG, My Mom, penerbit dan penulis mengaris bawahi
sisi unik yang terabaikan kamera. Antologi ini memang berbeda dengan ulasan
cerpen sebelumnya. Selain mengikuti tren pasar buku, FLP Aceh tampak sigap
dalam mengepakkan sayap kepenulisannya lebih lebar.
Selamat
untuk FLP Aceh, kelima buku di atas patut menjadi acuan belajar, baik pemula,
bahkan cerpenis andal sekali pun. Tulisan bukan hanya masalah siapa saya dan
ide apa, tapi, menulislah dan inilah saya. Terus terbangkan semangat menulis
yang tinggi, FLP Aceh!
Isni
Wardaton: Selamat menjajaki usia 13th FLP Wilayah Aceh.

0 komentar:
Posting Komentar