Senin, 24 Maret 2014

Semangat Dalam Lima Karya Bersama




Tak lekang oleh waktu, kebenaran harus diungkap, walau itu pahit, begitu kiranya secara tegas cerpenis tuangkan dalam ramuan buku Doa untuk Sebuah Negeri. Penulis dengan latar belakang Nanggroe Seuramo Mekkah, dengan ceubeuh menggantikan air mata dan darah menjadi kumpulan bongkahan kata yeng tersusun rapi dalam paragraf, demi melawan lupa.

Bahasa fiksi tidak menggurui yang digunakan Diana Roswita dalam cerpennya berjudul Dua Jalan, menceritakan rintihan Mak, dua anaknya terpisah pada jalur yang beda, sang kakak memihak TNI sementara adiknya ternyata anggota GAM. Sementara Doa untuk Sebuah Negeri oleh Julianty Ismail, mengisahkan tentang kesaksian seseorang terhadap apa yang ditangkap mata di sebuah negeri yang dulunya terkenal indah dan damai. Buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh enam perempuan Aceh pada tahun September 2001 bukan sekedar bacaan belaka, melainkan juga reportase yang terlupakan.

Aceh masih terluka. Tiga kata itulah yang ingin disampaikan penulis FLP Aceh dalam tiap halaman kumpulan cerpen Hati yang Terpisah. Buku yang diterbitkan pada Mei tahun 2004 ini kembali menyibak memori lama untuk anak Aceh masa kini. Buku ini menjadi catatan isak tangis sejarah, seolah Aceh teriakkan, jangan lupakan kami.

Diawali dengan kisah Yang Tersisa dari Dina, seorang santri kelas satu SLTP. Dina berusaha keras membunuh kenangan buruk yang sempat dibawa ke atas, sebuah istilah tempat latihan gerakan separatis yang berada di hutan pegunungan. Beragam cara ia lakukan, malah mimpi buruk yang kerap ia terima.

Tak jauh beda dengan kisah Dina, Rina seorang istri panglima sagoe GAM dihadapkan teroran  ketakutan, cemoohan tetangga dan tatapan curiga. Bahkan ia harus rela melepas cinta yang dipupuknya susah payah demi abdi pada negeri. Siapa sangka, Tuhan memisahkan hati keduanya selamanya lewat penulis bernama Mayda Latif. Hati yang Terpisah layak menduduki cover buku ini, di balik halaman selanjutnya, tak terhitung jumlah hati-hati lain yang terpisah.

September 2004, FLP Aceh lagi-lagi melahirkan karya. Warna tulisan yang dikemas cover berjudul Bintang Langit Baiturrahman mengabarkan kepada kita. Balumbidi, makhluk mitos yang terkenal di Tanah Rencong menjadi salah satu cerita dalam buku ini. Begitu juga dengan Benang Tujuh Warna, kedua cerpen yang ditulis rapi oleh Ferhat mengangkat kisah mitos berdasarkan sudut pandang orang Aceh. Setting, bahkan campur kode berbahasa Aceh menjadi salah satu warna yang turut serta mewarnai cerpennya. Kepada pembaca, lewat kedua cerpennya terus mengingatkan kepada pembaca untuk mengenal Tuhan lebih dekat.

Aji merupakan bintang yang terus benderang dimata Tiwi. Bocah berusia sepuluh tahun yang menyodorkan selembar amplop menjadi awal dari persahabatan keduanya. Di atas lantai mesjid Baiturrahman, Tiwi kerap mengajari Aji ilmu agama. Cerpen tersebut mengolah perasaan seorang bocah untuk terus bersinar terang, dan menyisakan haru lewat sosok Tiwi. Cempaka, sang penulis berhasil menjadi bayangan Tiwi dalam menyampaikan pesannya. Aneuk Aceh, bangkit!



Bermodal semangat menulis, Mei 2009, FLP Aceh membangun lini pernerbitan khusus, Kamoe Publishing House. Saat itu, Ferhat sebagai direktur menggagas buku pertama yang berjudul Rumah Matahari Terbit. Masih dengan nuansa Aceh, Pembunuh Berinisial T, masih terngiang jelas siapa dia.

“… Tapi mungkinkah ‘T’ adalah keangkuhan bagi pemilik kebersahajaan sang ‘Teuku’? Atau ‘T’ adalah langkah-langkah gagah yang menghentak bumi pemilik sepatu laras yang bernama ‘Tentara’? Atau ‘T’ adalah wujud ketidakberdayaan geraham hukum negeri berjuta luka dalam rangkuman ‘Tak dikenal’?” (halaman 16)

Alfi Rahman, lewat Pembunuh Berinisial T, merangkum eksodus dari kampung karena konflik yang berkepanjangan. Lalu Tsunami datang menuruti titahNya menuju Aceh damai. 

Tak kalah mengagumkan dengan cerpen Alfi Rahman, dan penulis Rumah Matahari Terbit lainnya, Safrida Askariyah. Alimuddin mengenalkan sosok Safrida yang sedang mencuci pakaian, namun memoarnya terkelupas satu-persatu. Membacanya, saya tak sadar telah melalui perpindahan plot sangat cepat dan sama sekali tidak menganggu meneguk arti damai yang tak ada apa-apanya dimata Safrida.

“Damai itu hanya di selembar atau beberapa kertas. Sementara perih jiwa di sekujur tubuh. Sembuhkah luka itu? Safrida bisakah berdamai dengan duka di sekujur tubuh?” (halaman 40)

Membaca Doa untuk Sebuah Negeri, Hati yang Terpisah, Bintang Langit Baiturrahman, dan Rumah Matahari Terbit seperti membaca catatan hati Aceh. Kempat buku yang ditulis oleh penulis Aceh dengan beragam latar belakang, sangat kental dengan setting Aceh, baik untuk menyatakan latar tempat, dan suasana Aceh seutuhnya seiring berjalannya waktu.

Seiiring besarnya angka usia, pada tahun ke 12 FLP Aceh hadir di tengah-tengah masyarakat, Kamoe Publishing House kembali menetaskan karya yang berbeda. OMG, My Mom! Cerita kocak (nyata) ibu dan anak ditulis oleh teman-teman dengan beragam problema. Senja Kelabu dengan gesit memainkan kata membuat pembaca hanyut dalam ceritanya bersama Mama maniak game yang berjudul, Tembak Monsternya, Mom!

Norak, konyol, lebay, dan unik yang dikemas apik oleh 17 penulis akan mengajak pembaca memutar digit ingatan kisah lucu bersama ibu. Penulis tak hanya melepas konyolnya semata, sebaliknya mengerat pelukan sosok ibu lewat tinta kata.

Saya pun percaya, setiap ibu mempunyai cara tersendiri dalam mengirim paket cinta untuk anaknya. Lewat kemasan OMG, My Mom, penerbit dan penulis mengaris bawahi sisi unik yang terabaikan kamera. Antologi ini memang berbeda dengan ulasan cerpen sebelumnya. Selain mengikuti tren pasar buku, FLP Aceh tampak sigap dalam mengepakkan sayap kepenulisannya lebih lebar.

Selamat untuk FLP Aceh, kelima buku di atas patut menjadi acuan belajar, baik pemula, bahkan cerpenis andal sekali pun. Tulisan bukan hanya masalah siapa saya dan ide apa, tapi, menulislah dan inilah saya. Terus terbangkan semangat menulis yang tinggi, FLP Aceh!

Isni Wardaton: Selamat menjajaki usia 13th FLP Wilayah Aceh. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com