Kamis, 12 Juni 2014

Benar dalam Jujur, dan Allah Mencintaimu



Judul           : Jujurlah, dan Allah Mencintaimu
Penulis        : Sa`id Abdul Azhim
Penerbit       : Fikr
Halaman      : 488
Tahun terbit : 2007
ISBN           : 978-979-15519-4-6

“Barangsiapa berpegang pada kejujuran, maka ia mendapat taufiq (kesuksesan) dari Allah”
Allah SWT. sangat mengagungkan kejujuran, bahkan menggantungkan kebahagiaan dan keselamatan hambaNya di dunia dan akhirat pada kejujuran. Demikian pula, Allah tidak menyelamatkan seseorang melainkan dengan kejujurannya, dan Allah tidak membinasakan seseorang melainkan karena kebohongannya.

Kejujuran adalah jalan menuju iman. Bukti kebenaran iman. Pembimbing jalan yang lurus. Hiasan terindah. Pakaian yang agung. Cantik dan tampanlah seorang hamba bila berdandankan kejujuran karenaNya. Subhanallah.

Sedangkan lawannya kejujuran adalah dusta. Pemilih jalan menuju kekufuran dan kemunafikan. Menjadi penyetir kemunafikan diri. Pakaian, hiasan dan saripati yang ia kenakan adalah kebohongan. Na`uzubillah.

‘Umar berkata, “Tetaplah jujur meski kejujuran itu membunuhmu.”
Yang menarik dari buku ‘Jujurlah, dan Allah Mencintaimu’ membahas kaitan ikhlas, jujur dan sabar dalam amalan. Yakni, keikhlasan tidak terwujud dengan sempurna kecuali dengan kejujuran dan kesabaran. Kesabaran tidak terwujud kecuali dengan kejujuran dan keikhlasan di dalamnya. Kejujuran tidak terwujud kecuali dengan kesabaran dan keikhlasan. Maha Suci Allah yang telah menganugrahi kita hati yang mampu meresapi maknanya.

Saya terpaku pada paragraf di bawah ini yang menawarkan sebuah pilihan untuk jujur dalam bertaubat. Sengkiranya benar ingin kembali pada jalan yang lurus, sewajarnyalah sebagaimana kutipan di bawah ini.

‘Termasuk jujur dalam bertaubat adalah meninggalkan teman-teman yang dapat menjerumuskan Anda untuk melanggar perintah Allah, kecuali jika mereka bertaubat. Allah berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi bagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (az-Zukhruf [43]:67).’ (hlm.46)

Mengenai jujur terhadap aib diri sendiri, Sa`id Abdul Azhim juga mengutip perkataan seorang ulama, “Di antara tanda bahwa engkau jujur dalam introspeksi diri adalah, jika orang lain mencelamu maka engkau tidak marah.” (hlm.50)

Jujur mencintai Allah `Azza wa jalla yakni dengan menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. Lewat muraqabah, dengan merasa Allah terus dan sekejap pun kita tak luput dari pengawasanNya, semoga kita menjadi sebaik-baik hamba dalam penjagaanNya.

Adapun jujur dalam rasa malu kepada Allah. Allah berfirman, “Berbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushshilat [41]: 40). (hlm.94)

`Umar bin Khaththab berkata, “Barangsiapa merasa malu, maka ia pasti bersembunyi. Dan barangsiapa bersembunyi, maka ia pasti menjaga diri.”

Maka jika kamu jujur kepada Allah, maka Dia membenarkanmu. Karena Allah akan membalas, dan balasan itu serupa dengan perbuatan yang diperbuat.

Kecuali dari tiga hal, tidak dibolehkan berbohong. Muslim meriwayatkan, bahwa Ummu Kultsum berkata “Aku tidak mendengar Rasulullah memberikan keringanan berkata bohong kecuali dalam tiga hal, yaitu dalam peperangan, mendamaikan persengketaan antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya dan ucapan istri kepada suaminya.” (hlm.249)
Dunia jungkir balik menertawai betapa bodohnya kita (manusia) yang begitu mudah dalam bercerita. Sehingga luput tentang aib yang telah dibeberkan. Seperti yang Ibnu Samak katakan, “Jangan kamu membantu manusia dengan membuka aibmu di depan mereka, kemudian mereka menjelek-jelekkanmu di saat kamu tidak bersama mereka.” Na`uzubillah, semoga Allah menutupi aib kita dengan menutup aib saudara kita.
Kerap juga kita berdalih bahwa mengatakan kebenaran dan mengungkap kefasikan seseorang. Meskipun jujur dalam menggunjing, namun sejatinya ia telah membuka aib orang lain yang ditutupi-tutupinya. Na`uzubillah. Semoga Allah senantiasa menjaga lidah kita, dan senantiasa perbanyak istigfar.

Dalam dalil dengan riwayat dari Rasulullah saw, “Tiga golongan yang menggunjing mereka bukan termasuk menggunjing, yaitu: pemimpin yang aniaya, peminum khamer, dan orang yang terang-terangan berbuat fasik.” (hlm.267)

Di era yang terus berkembang, menjaga hati dan lidah senantiasa benar dalam jujur menjadi takaran yang sulit diukur. Namun, percayakan kepadaNya yang tidak luput sekecil apapun kebohongan yang ia keluarkan, janji Allah akan membalasNya. Membaca buku ‘Jujurlah, dan Allah Mencintaimu’ seakan menggali diri sendiri untuk menjawab, sudahkah saya jujur? Bagaimanakah kabar kebohongan itu?


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com