Judul :
Jujurlah, dan Allah Mencintaimu
Penulis : Sa`id Abdul Azhim
Penerbit : Fikr
Halaman : 488
Tahun
terbit : 2007
ISBN : 978-979-15519-4-6
“Barangsiapa berpegang pada kejujuran, maka ia mendapat taufiq (kesuksesan) dari Allah”
Allah SWT. sangat mengagungkan
kejujuran, bahkan menggantungkan kebahagiaan dan keselamatan hambaNya di dunia
dan akhirat pada kejujuran. Demikian pula, Allah tidak menyelamatkan seseorang
melainkan dengan kejujurannya, dan Allah tidak membinasakan seseorang melainkan
karena kebohongannya.
Kejujuran adalah jalan menuju iman. Bukti kebenaran iman. Pembimbing jalan yang lurus. Hiasan terindah. Pakaian yang agung. Cantik dan tampanlah seorang hamba bila berdandankan kejujuran karenaNya. Subhanallah.
Sedangkan lawannya
kejujuran adalah dusta. Pemilih jalan menuju kekufuran dan kemunafikan. Menjadi
penyetir kemunafikan diri. Pakaian, hiasan dan saripati yang ia kenakan adalah
kebohongan. Na`uzubillah.
‘Umar berkata, “Tetaplah jujur meski kejujuran itu membunuhmu.”
Yang menarik dari buku ‘Jujurlah, dan Allah Mencintaimu’ membahas kaitan ikhlas, jujur dan sabar dalam amalan. Yakni,
keikhlasan tidak terwujud dengan sempurna kecuali dengan kejujuran dan
kesabaran. Kesabaran tidak terwujud kecuali dengan kejujuran dan keikhlasan di
dalamnya. Kejujuran tidak terwujud
kecuali dengan kesabaran dan keikhlasan. Maha Suci Allah yang telah
menganugrahi kita hati yang mampu meresapi maknanya.
Saya terpaku pada paragraf
di bawah ini yang menawarkan sebuah pilihan untuk jujur dalam bertaubat. Sengkiranya benar ingin kembali pada jalan yang lurus, sewajarnyalah sebagaimana kutipan di bawah ini.
‘Termasuk jujur dalam
bertaubat adalah meninggalkan teman-teman yang dapat menjerumuskan Anda untuk
melanggar perintah Allah, kecuali jika mereka bertaubat. Allah berfirman, “Teman-teman
akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi bagian yang lain kecuali
orang-orang yang bertaqwa.” (az-Zukhruf [43]:67).’ (hlm.46)
Mengenai jujur terhadap aib
diri sendiri, Sa`id Abdul Azhim juga mengutip perkataan seorang ulama, “Di
antara tanda bahwa engkau jujur dalam introspeksi diri adalah, jika orang lain
mencelamu maka engkau tidak marah.” (hlm.50)
Jujur mencintai Allah
`Azza wa jalla yakni dengan menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
Lewat muraqabah, dengan merasa Allah
terus dan sekejap pun kita tak luput dari pengawasanNya, semoga kita menjadi
sebaik-baik hamba dalam penjagaanNya.
Adapun jujur dalam rasa
malu kepada Allah. Allah berfirman, “Berbuatlah apa yang kamu kehendaki;
sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushshilat [41]: 40).
(hlm.94)
`Umar bin Khaththab
berkata, “Barangsiapa merasa malu, maka ia pasti bersembunyi. Dan barangsiapa
bersembunyi, maka ia pasti menjaga diri.”
Maka jika kamu jujur
kepada Allah, maka Dia membenarkanmu. Karena Allah akan membalas, dan balasan
itu serupa dengan perbuatan yang diperbuat.
Kecuali dari tiga hal, tidak
dibolehkan berbohong. Muslim meriwayatkan, bahwa Ummu Kultsum berkata “Aku
tidak mendengar Rasulullah memberikan keringanan berkata bohong kecuali dalam
tiga hal, yaitu dalam peperangan, mendamaikan persengketaan antara manusia, dan
ucapan suami kepada istrinya dan ucapan istri kepada suaminya.” (hlm.249)
Dunia jungkir balik menertawai betapa bodohnya kita (manusia) yang begitu mudah dalam bercerita. Sehingga luput tentang aib yang telah dibeberkan. Seperti yang Ibnu Samak katakan, “Jangan kamu membantu manusia dengan membuka aibmu di depan mereka, kemudian mereka menjelek-jelekkanmu di saat kamu tidak bersama mereka.” Na`uzubillah, semoga Allah menutupi aib kita dengan menutup aib saudara kita.
Kerap juga kita berdalih
bahwa mengatakan kebenaran dan mengungkap kefasikan seseorang. Meskipun jujur dalam menggunjing, namun sejatinya ia telah membuka aib orang lain yang ditutupi-tutupinya. Na`uzubillah. Semoga Allah senantiasa menjaga lidah kita, dan senantiasa perbanyak istigfar.
Dalam dalil dengan riwayat dari Rasulullah saw, “Tiga golongan yang menggunjing mereka bukan termasuk menggunjing, yaitu: pemimpin yang aniaya, peminum khamer, dan orang yang terang-terangan berbuat fasik.” (hlm.267)
Dalam dalil dengan riwayat dari Rasulullah saw, “Tiga golongan yang menggunjing mereka bukan termasuk menggunjing, yaitu: pemimpin yang aniaya, peminum khamer, dan orang yang terang-terangan berbuat fasik.” (hlm.267)
Di era yang terus
berkembang, menjaga hati dan lidah senantiasa benar dalam jujur menjadi takaran
yang sulit diukur. Namun, percayakan kepadaNya yang tidak luput sekecil apapun
kebohongan yang ia keluarkan, janji Allah akan membalasNya. Membaca buku ‘Jujurlah,
dan Allah Mencintaimu’ seakan menggali diri sendiri untuk menjawab, sudahkah
saya jujur? Bagaimanakah kabar kebohongan itu?

0 komentar:
Posting Komentar